Surabaya selayang pandang
Jantung Surabaya terletak di Jl. Pemuda, tempat yang bagus untuk memulai perjalanan Anda. Kemudian kita menuju ke pelabuhan tua Kalimas, ramai dengan kapal-kapal, kapal kontainer, dan terdapat beberapa kapal kayu Pinisi tradisional yang sedang mengangkut beban, sebuah pemandangan yang menghiasi tempat ini selama 600 tahun terakhir.
Dekat Kalimas, kita bisa berkunjung ke Masjid Sunan Ampel, yang dibangun pada 1421. Surabaya adalah kota yang menarik dan penuh dengan kontradiksi. Sebelum menjadi wilayah kerajaan, Surabaya pada masa kolonial Belanda, kota berubah menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan terbesar di masa itu. Kemudian beberapa dari pertempuran yang paling berdarah untuk kemerdekaan terjadi di sini. Warisan sejarah dapat kita lihat sekarang bercampur dengan pemandangan kehidupan modern masa kini.
Kita lanjutkan perjalanan menuju ke Masjid Cheng Hoo di Jl. Gading, sebuah masjid yang memiliki unsur budaya Cina sebagai pagoda unik berbentuk atap.
Tidak begitu jauh dari pusat kota lama, Hotel Majapahit, gaya kolonial Belanda adalah tempat yang tepat untuk berhenti sejenak dan menyeruput secangkir teh. Pada tahun 1945, hotel ini merupakan tempat peristiwa sejarah perjuangan, terjadi penyobekan kain biru pada bendera Belanda dan mengubahnya menjadi Merah Putih, yang kini menjadi bendera Indonesia.
Setelah matahari terbenam, Kya Kya Kembang Jepun menawarkan berbagai makanan murah di tempat terbuka, Pujasera versi Surabaya yang juga merupakan tempat untuk mencuci mata.
No Comments »
No comments yet.
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI







































































